Ketua MPR Ahmad Muzani membuka secara resmi Muktamar ke-XXIII Al Jam’iyatul Alwashliyah yang berlangsung di Asrama Haji Jakarta, Pondok Gede, Jakarta Timur, Selasa, 7 Juli 2026. Dalam amanahnya, Muzani menyampaikan penghargaan atas peran organisasi dan para gurunya yang bekerja di daerah-daerah terpencil.

Dalam sambutannya, Ahmad Muzani menekankan pentingnya keberadaan organisasi keagamaan seperti Alwashliyah yang memiliki kader di kampung-kampung kecil dan pelosok negeri. Menurutnya, keberadaan mereka menjadi inspirasi dan memupuk optimisme bagi masyarakat yang ekonominya masih tertinggal.
Ahmad Muzani dalam Sorotan Publik
Ahmad Muzani mengapresiasi perjuangan para guru Alwashliyah yang mengajar di madrasah-madrasah milik organisasi. Ia menyoroti kondisi gaji yang kecil dan ketidaksesuaian dengan biaya hidup, namun menilai semangat pengabdian para guru tetap tinggi. “Coba bayangkan, kalau tidak ada organisasi keagamaan seperti Al Washliyah ini, betapa beratnya beban negara untuk mencerdaskan anak-anak bangsa,” ujarnya.
Dalam pidatonya Muzani juga mengutip keterangan panitia bahwa ribuan kader mengajar dalam kondisi yang memprihatinkan. Meski demikian, semangat mengajar menurutnya didasari bukan semata mencari dunia, melainkan juga keyakinan spiritual yang menguatkan komitmen pengabdian.
Imbauan pemanfaatan teknologi untuk kesejahteraan
Selain memberi apresiasi, Ahmad Muzani mengimbau para guru dan kaum wanita untuk memanfaatkan kemajuan teknologi informasi secara bijak. “Sekarang semuanya ada di handphone. Mau belajar menjadi pengusaha, mau membuat kue, mau bikin rendang, mau buka warung bisa di handphone. Tidak usah belajar jauh-jauh,” tuturnya, seraya mengingatkan agar tidak menjadi korban dari penggunaan media sosial.
Muzani menyatakan jika handphone dan teknologi dimanfaatkan dengan baik, alat komunikasi itu bisa menopang ekonomi para guru di manapun mereka mengajar. Pernyataan ini menggarisbawahi harapan agar teknologi menjadi alat pemberdayaan ekonomi, bukan sekadar hiburan semata.
Fokus dakwah: pendidikan, moral, dan kesejahteraan
Ketua Umum PB Al Washliyah DR. KH. Masyhuril Khamis menegaskan bahwa dakwah utama organisasi selain pendidikan adalah benteng terhadap kerusakan moral. Ia menyampaikan kekhawatiran terhadap penyebaran nilai yang dinilai merusak, dan menyebut isu LGBT sebagai salah satu perhatian gerakan dakwah karena penyebarannya dianggap semakin masif.
Selain itu, Masyhuril mengatakan fokus lain adalah memperkuat kesejahteraan rakyat untuk mewujudkan Indonesia maju: kaya secara materi, kuat imannya, dan mulia akhlaknya. Ia juga memberi apresiasi atas semangat para kader yang datang dari berbagai penjuru dengan biaya sendiri untuk mengikuti muktamar.
Partisipasi luas dan dukungan lembaga
Muktamar diikuti sekitar seribu peserta dari 38 Pengurus Wilayah se-Indonesia, tujuh Organisasi Bagian, 198 Pengurus Daerah, serta sejumlah pengurus luar negeri antara lain dari Malaysia, Inggris/ Eropa, dan Amerika Serikat. Hadir pula para rektor dan kepala sekolah tinggi Al Washliyah serta jajaran PB Al Washliyah.
Di deretan tamu hadir beberapa pejabat tinggi dan tokoh masyarakat. Selain Ahmad Muzani, Ketua Baznas Sodik Mujahid turut memberi sambutan. Pada kesempatan itu juga ditandatangani nota kesepahaman kerja sama program dan bantuan dana untuk meningkatkan mutu pendidikan dan kesejahteraan guru Alwashliyah sebesar Rp 500 juta pada tahap pertama dan Rp 500 juta pada tahap berikutnya.
Rangkaian acara dan kehadiran menteri
Serangkaian pejabat kabinet juga memberikan pencerahan pada muktamar yang merupakan hajatan lima tahunan ormas Islam yang lahir di Medan. Pada hari kedua, 8 Juli, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Dr. Abdul Mu’ti menyampaikan materi bertema “Penguatan Pendidikan Karakter dan Keagamaan di Era Disrupsi.” Selain itu hadir Menteri Haji dan Umrah KH. Mochammad Irfan Yusuf; Menteri Agama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar; dan Ketua Baznas Dr. Ir. Sodik Mujahid, yang masing-masing membahas topik terkait pelayanan haji, moderasi beragama, dan optimalisasi zakat untuk pendidikan.
Pada hari ketiga, 9 Juli, agenda menghadirkan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dengan tema legalitas aset umat, Wakil Menteri Agama Prof. Dr. Romo HR Muhammad Syafi’i yang membahas ekonomi keumatan, serta Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Selain forum formal, muktamar juga dimeriahkan hiburan, termasuk penampilan Orkes Gambus Noor El Sabah dari Malaysia dan atraksi dari beberapa wilayah peserta.
Seluruh rangkaian kegiatan mencerminkan upaya organisasi dan berbagai pihak untuk memperkuat peran pendidikan keagamaan, melindungi nilai moral, serta meningkatkan kesejahteraan guru sebagai ujung tombak pembangunan sumber daya manusia di daerah-daerah terpencil.
